Sunday, 22 December 2013

Vietnam..



Vietnam…. pasti sebagian dari anda berpikir, Vietnam bukanlah destinasi liburan yang mengasikan. Kalau begitu anda salah. Yang perlu anda tahu, Vietnam tak pernah sepi dari turis. Berbagai turis dari belahan dunia selalu memadati di setiap kota Vietnam.



Saya dan teman-teman tiba di kota Ho chi minh, kota yang berada di Vietnam bagian selatan tepat saat malam natal setahun yang lalu (Desember 2012). Begitu memasuki pusat kota Ho chi minh atau tepatnya di City Hall, kami langsung disambut oleh keramaian orang-orang yang berjalan kaki memenuhi City Hall untuk merayakan malam natal. Diantara mereka banyak yang menggunakan kostum seperti santa claus. Asal tahu saja, penduduk Ho chi minh sebenarnya tidak merayakan natal karena hampir 90 persen penduduk Vietnam beragama Budha. Bagi mereka Natal adalah perayaan Universal.


Berjalan- jalan di kota Ho Chi Minh, saya memperhatikan jalanannya. Lalu lintas di kota Ho chi minh ternyata lebih berantakan daripada di Jakarta, banyaknya sepeda motor melebihi banyaknya jumlah penduduk.




Di kota Ho chi minh banyak sekali bisa kita jumpai sisa-sisa peninggalan jajahan perancis seperti Catedral Notredame, Post Office dan Opera House. Di kota Ho chi minh juga banyak kita jumpai sisa-sisa peninggalan perang Vietnam seperti Cuchi Tunnel yaitu tempat persembunyian para tentara Vietnam. Ada juga War Museum yang berisi pesawat perang dan tank milik Amerika saat perang vietnam. Di dalamnya juga terdapat foto-foto hasil jepretan para fotografer saat perang Vietnam yang bisa membuat anda dijamin ingin menangis saat melihat foto-foto tersebut.

Jangan lupa mampir ke pasar Ben Thanh, pasar yang terkenal di Ho Chi Minh untuk membeli Oleh-oleh. 

Di kota Ho chi minh masih banyak bisa kita jumpai restaurant-restaurant halal. Karena sebenarnya daging babi merupakan campuran utama makanan-makanan di Vietnam,  jadi kita tidak bisa jajan sembarangan.


Setelah menghabiskan tiga hari di Ho chi minh, kami melanjutkan perjalanan ke Vietnam bagian tengah menggunakan pesawat. Di vietnam tengah kami mengunjungi tiga kota yaitu Da nang, Hoi an dan Hue. Di Vietnam tengah, sangat kental sekali pengaruh budaya china. Di kota Da nang, saat mengunjungi Marble Mountain kita akan menemukan patung budha besar buatan manusia. Jika manusia punya keyakinan apapun bisa dilakukan.

Budha at Marbe Mountain



Perjalanan dilanjutkan ke kota Hoi An yang hanya berjarak 30 km atau ditempuh selama 30 menit dari kota Da nang. Awalnya kami berfikir, apa yang menarik yang bisa kami temukan di kota kecil ini. Ternyata kota ini tak pernah sepi dari Turis. Hoi An ancient town, Hoi An Ancient Town dilindungi oleh UNESCO sebagai World Heritage. Mungkin sekilas hanya tampak gedung gedung tua biasa, tapi gedung gedung ini di konserfasi dan dirawat oleh pemerintah untuk dijadikan tempat wisata. Andaikan pemerintah di Indonesia bisa merawat gedung gedung tua di daerah kota tua, pasti akan banyak menarik banyak wisatawan. Sebelum memasuki Hoi An ancient town kita akan melewati Japanase Covered Bridge yang dibangun oleh pemerintahan Jepang.



Hoi An Ancient Town
Japanese Bridge




kami memutuskan untuk tidak menyewa sepeda namun berjalan kaki. Hoi An sebenarnya kota kecil yang sangat nyaman sekali untuk berjalan kaki dimana trotoar sungguh sangatlah layak serta Hoi An Ancient town  ini tidak terlalu luas. Hanya sepeda dan sepeda motor yang boleh melintas disini. Anda juga bisa berkeliling Hoi An ancient Town menggunakan Cyclo. Cyclo adalah becak khas Vietnam. Berjalan jalan disini jadi teringat seperti di jalanan di Braga, Bandung. Gedung-gedung tua disini banyak digunakan untuk toko souvenir. Banyak juga kita jumpai wanita-wanita yang menjajakan makanan khas kota Hoi An.




Cyclo



Naik sampan menyusuri sungai di kota Hoi An bagai naik gondola di Venesia. Sungguh tenang sore hari di kota Hoi An melihat para penduduk lokal yang sangat ramah, bergabung dengan para turis. Malam hari di pinggiran sungai banyak cafe-cafe yang dipenuhi oleh turis untuk menikmati indahnya Hoi An ancient town yang hiasi dengan lampion lampion menambah cantik Hoi an ancient town pada malam hari.

naik sampan di Sungai yang mengelilingi Hoi An Ancient Town





 
Cafe-Cafe malam di Hoi An Ancient Town


Bermalam di Kota Hoi An, paginya kami langsung melanjutkan perjalan ke kota Hue yang kami tempuh selama 3,5 jam. Kami sempat kena tilang saat menuju kota Hue, bisa anda bayangkan apa penyebabnya? Karena kecepatan kendaraan kami melewati kecepatan 40km/jam. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, jadi lebih lama karena kecepatan tak boleh lebih dari 40km/jam.



Sesampainya di kota Hue kami langsung menuju Perfume River. Dinamakan Perfume River karena konon sungai ini memiliki aroma yang wangi. Kami naik sebuah kapal berbentuk naga dan langsung menyusuri Perfume River. Tak hanya menyusuri sebuah sungai, karena ternyata setelah 30 menit menyusuri Perfume River kita akan menemukan sebuah pagoda. Thien mu pagoda namanya. Thien mu pagoda terdiri dari tujuh tingkat, masing-masing tingkat diartikan sebagai bentuk kemanusiaan yang diambil dari Budha. Di Thien mu pagoda ini banyak terdapat biksu-biksu muda.

Thien mu Pagoda
 


Selanjutnya masih di kota Hue, kita masih akan dibuat kagum dengan Hue Imperial City yang dulunya adalah tempat tinggal para raja yang sangat mewah dan megah. Hue Imperial City ini mirip dengan Forbiden City yang ada di Beijing. Begitu kental dengan segala ornament khas China. Andapun bisa menyewa baju Tradisional China untuk berfoto.


Hue Imperial City

Keesokan harinya kami naik pesawat lagi untuk menuju kota Hanoi, Vietnam bagian Utara. Ya.. kita akan menuju ibukota Negara Vietnam. tapi kali ini kita tidak akan langsung menyusuri kota Hanoi, tapi kita akan mengunjungi sebuah kota di Vietnam Utara yang berbatasan langsung dengan Republik Rakyat China. Kota ini merupakan tujuan utama para wisatawan jika berkunjung ke Vietnam. Saat itu bulan Desember, Ha Long Bay begitu dingin udaranya mencapai 8 derajat celcius pada malam hari dan 11 derajat celcius pada pagi hari.





Siapa tak kenal Ha Long Bay, dijuluki negeri tempat bersemayamnya para naga. sebuah teluk yang sangat menawan karena disana terdapat gugusan pulau kapur yang menjulang spektakuler dari dalam laut. Kami mengarungi Ha Long Bay menggunakan sebuah kapal pesiar yang jumlahnya begitu banyak. Diantara gugusan-gugusan pulau kapur tersebut terdapat sebuah kampung nelayan terpaung yang tenang, yang segala kebutuhan listrik sampai air bersih ditanggung oleh pemerintah. Sampai-sampai pemerintah membuat sekolah terapung agar para anak nelayan tetap bias bersekolah. Jadi  seluruh keluarga nelayan ini hidup tenang dan tentram walaupun berada di tengah-tengah laut.

Deretan Gunung kapur di Ha Long Bay



Kami turun dari pesiar ditengah-tengah kampung nelayan tadi, lalu melanjutkan dengan naik perahu yang semua pendayungnya kebanyakan adalah para wanita. Mereka sangat kuat bukan. Tidak mau kalah dengan para wanita pendayung tadi, anda juga bisa menggunakan Kayak untuk menyusuri gugusan pulau kapur nan elok.

Naik Kayak mengelilingi deretan Gunung Kapur

            Puas naik kayak, kami lanjutkan pesiar kami ke sebuah gua yang sangat mengagumkan. Gua ini bernama gua Thien Cung Grotto atau dikenal dengan Heaven Palace. Gua ini seperti Gua kebanyakan, yang membuatnya terlihat mengagumkan adalah sorotan lampu warna warni yang sengaja dibuat untuk menambah keindahan dan daya tarik gua. Pariwisata di Vietnam sangat di dukung oleh pemerintah.

            Setelah puas menyusuri Ha long bay, tidak lengkap rasanya jika tidak mampir untuk membeli mutiara, yang memang  khas dari Ha Long Bay. Dijelaskan pula cara membedakan mana mutiara asli dan mutiara palsu.

            Rasanya tak cukup sehari semalam di Ha Long Bay, tapi kami tetap harus melanjutkan perjalanan kami. Kota terakhir yang akan kami kunjungi adalah Hanoi. Tak banyak waktu kami di Hanoi, kami hanya mengunjungi salah satu Universitas tertua di Vietnam dan tempat yang wajib dikunjungi jika ke Hanoi, yaitu Ho Chi Minh Moseleum. Di Ho Chi Minh moseleum ini terdapat jasad Bapak Ho Chi Minh yang merupakan pahlawan bagi rakyat Vietnam. Jasad Ho chi minh dibalsem dan masih bias dikunjungi oleh rakyatnya. Di Ho Chi Minh Moseleum juga terdapat tempat tinggal Ho Chi Minh sampai beliau wafat.

            Sedikit informasi, dari Vietnam tengah sampai ke Vietnam Utara kami sangat sulit menemukan restaurant halal. Jadi kami hanya memilih sayuran dan ikan untuk menu kami. Para penduduk Vietnam pun sangat sedikit yang bisa berbahasa Inggris, jadi menyulitkan untuk berkomunikasi.

            Sangat berkesan sekali perjalanan kami kali ini ke Vietnam. dari para tur Guide kami panikan, sangat santai, sampai ada yang Galau karena putus cinta.

            Vietnam yang penuh sejarah dan budaya yang menakjubkan. Dijamin anda tidak akan menyesal jika berlibur kesana.






Powered by Blogger.

Putri Triandita

TV Creative, Travelling, Edwin AF GirlFriend..

About